Di dalam kehidupan sehari-hari kita, terkadang kita bisa memperhatikan bahwa lantai rumah tempat tinggal atau gedung tempat kita bekerja terbuat dari ikatan beton berwarna abu-abu yang telah mengeras dan kokoh. Layaknya sebuah komunitas masyarakat RT yang damai, ayem lan tentrem terdiri dari warga berbeda agama, suku, dan ras, beton yang kokoh itu awalnya adalah perpaduan elemen bahan yang berbeda pula, yakni antara semen, pasir, batuan agregat dan air sederhana yang kemudian disatukan dan dituangkan pada luasan lantai yang sudah didesain sebelumnya. Proses penuangan beton itu sendiri disebut pengecoran beton lantai. Pekerjaan ini bertujuan untuk mengisi dan membentuk luasan lantai yang diinginkan menjadi lantai bangunan seperti di bawah kedua kaki Anda.
Jika kita sedikit menengok ke belakang, pekerjaan pengecoran beton pada lantai dipercaya sudah ada sejak mulai diaplikasikannya penemuan lapisan dari kapur di benua Timur Tengah. Pada awalnya, masyarakat melapisi dinding luar rumah dan benteng mereka dengan lapisan kapur yang terbakar sengatan matahari dan obor api yang digesek-gesekan pada dinding sehingga menciptakan lapisan yang keras. Dapat dikatakan lapisan kapur tersebut adalah cikal bakal penemuan beton pada proses pembangunan di Timur Tengah.
Awal Pemanfaatan Beton
Pemanfaatan beton secara struktural benar-benar diaplikasikan pada tahun 6500 SM oleh para pedagang Nabatea atau Badui di kerajaan-kerajaan kecil yang mereka bangun di sekitaran oasis sepanjang wilayah Suriah selatan dan Yordania utara. Mereka menggunakan kapur hidrolik dimana dapat berfungsi sebagai semen yang dapat mengeras di bawah air. Pada 700 SM, dibuatlah tungku-tungku pembakaran untuk pembuatan mortar yang nantinya akan digunakan untuk membangun dinding rumah, membuat plat lantai beton rumah, istana, jembatan maupun benteng, serta tangka air bawah tanah dimana tangka air bawah tanah ini adalah rahasia di balik kesuksesan strategi masyarakat Nabatea dapat bertahan hidup.
Pada saat itu, masyarakat Nabatea mengetahui fakta bahwa kelebihan air pada campuran beton bisa menyebabkan banyak rongga apabila beton telah mengeras dikarenakan beberapa titik cor beton yang telah menurun elevasinya sehingga membuat kelemahan pada beton yang telah dicor. Masyarakat pada saat itu memanfaatkan bahan dari sumber daya alam lokal yang digunakan untuk membuat semen tahan air (waterproof) yang dibuat dari gabungan kapur, abu vulkanik berpasir, dan pasir silika halus yang dipanaskan pada tungku pembakaran dan pembuatan mortar.
Beton jenis ini juga digunakan untuk lantai pada bangunan-bangunan kuno dari sekitar tahun 5600 SM di sepanjang Sungai Danube di daerah bekas negara Yogaslavia. Seiring berkembangnya pengaplikasian beton untuk pekerjaan pengecoran lantai hingga menjadi pengecoran lantai terdiri dari semen Portland, pasir, air, dan agregat kasar dan halus yang kita kenali saat ini.
Pada awal pekerjaan lantai, para pelaksana proyek bangunan tentu harus melakukan survey pengukuran panjang, lebar, dan tebal atau tinggi lantai yang akan direncanakan, mendesain bagaimana gambaran lantai yang akan dibuat, serta membuat perencanaan anggaran dan waktu pekerjaan pengecoran yang akan dilaksanakan tergantung dari luas dan jumlah lantai yang akan dibuat. Setelah kegiatan-kegiatan tersebut telah dilaksanakan, pekerjaan pembuatan pondasi, sloof (untuk lantai dasar) dan balok (untuk lantai bertingkat), serta kolom dilakukan sebelum pekerjaan pengecoran beton. Pengecoran beton dilakukan oleh seorang kepala tukang dan para tenaga kerja pengecoran.
Pekerjaan ini diawali dengan pemasangan tulangan baja melintang pada panjang dan lebar lantai. Kemudian, campuran beton terdiri dari perbandingan 1 semen : 3 pasir : 5 agregat yang telah disiapkan dapat dicor ke luasan lantai yang direncanakan. Untuk pekerjaan pengecoran lantai yang tidak terlalu luas seperti pada rumah tempat tinggal 12 x 8 meter, dapat mengecor dengan bantuan ember secara manual.
Apabila untuk pekerjaan pengecoran lantai dalam skala besar seperti pada mall bertingkat, dapat menggunakan talang cor untuk menghemat efisiensi lamanya pekerjaan pengecoran beton. Setelah beton selesai dituang, permukaan beton dapat diratakan dan dipadatkan dengan menggunakan bantuan sendok semen (roskam) atau cangkul untuk pekerjaan lantai skala kecil dan vibrator serta trowel untuk pekerjaan lantai skala besar agar campuran beton dapat saling mengisi satu sama lain.

Dalam pekerjaan pengecoran beton, hal-hal yang harus diperhatikan hampir sama dengan pekerjaan-pekerjaan bangunan yang melibatkan beton di dalamnya, seperti pemerhatian kualitas bahan baku dan teknik pemadatan cor betonnya. Hanya saja perbedaannya terletak pada teknik penuangan beton basah. Apabila pengecoran beton kolom tidak boleh terlalu tinggi dan harus didiamkan sampai kering setiap kurang lebih 1 meter ketinggian, maka pada pengecoran beton lantai harus dekat dengan elevasi dasar dan dapat langsung dituang memenuhi luasan lantai yang direncanakan tanpa menunggu titik lain beton kering terlebih dahulu agar tidak terdapat perbedaan elevasi dan kerataan kualitas beton.
Setelah membahas secara lengkap terkait sejarah pemanfaatan beton, untuk mengetahui lebih lanjut tentang beton Anda juga bisa membaca artikel Mengapa Memilih Lantai Beton Pracetak?