Setelah membahas tentang analisis pemilihan material pasang poles area pedestrian, kini Mandor Pro juga akan membahas sedikit terkait bagaimana prosedur analisis dan pengambilan keputusan pasang poles pedestrian. Sebelumnya juga sempat disebutkan mengenai analisis 7 dimensi, untuk memperjelas simak penjelasannya lewat artikel berikut.
Analisis 7 Dimensi Proses Analisis Pemilihan Material Pasang Poles Area Pedestrian
Inti poin dari prosedur analisis dan pengambilan keputusan pasang poles area pedestrian terletak pada poin ketiga ini, beginilah kerangka analisis 7 dimensi.
Analisis Fungsional dan Beban
Analisis ini mencakup peta beban dan stress di mana setiap zona pedestrian mengalami stress yang berbeda, contohnya
Peta Beban dan Stress
- Walking Zone, zona ini harus menggunakan material yang tahan terhadap gesekan tinggi, beban titik, dan beban statis, contohnya seperti beton ekspos berkualitas tinggi atau paving blok beton K-400 untuk ketahanan
- Transition Zone, seperti trotoar ke jalan, material harus tahan terhadap impact loading dari kendaraan yang naik. Material yang digunakan misalnya seperti granit atau batu kali yang memiliki kekuatan tekan tinggi
- Furnishing Zone, material ini meliputi penempatan material perlengkapan seperti tiang, bangku, dan pot tanaman. Fokus pada material pondasi dan anchoring sistem yang terhadap beban dinamis dan korosi.
Parameter Teknis Kuantitatif
- Compressive Strength, Minimal 30 MPa untuk paving area umum
- Flexural Strength, Kritis untuk pelat beton tipis
- Abrasion Resistance, Umumnya diukur dengan uji Los Angeles atau Bristish Wheel dengan nilai dibawah 30% kehilangan massa dianggap sangat baik
- Slip Resistance, Nilai PSV (Polished Stone Value) >60 sangat disarankan untuk area basah, standa UK pendekatan grip koefisien gesekan statis >0.6 dianggap aman
Analisis Konteks Lingkungan
Dalam prosedur analisis dan pengambilan keputusan pasang poles area pedestrian, tidak hanya tentang analisis fungsional dan beban saja tetapi juga dan analisis konteks lingkungan yang meliputi.
Iklim Makro dan Mikro
- Curah Hujan dan Kelembaban, material berpori seperti sand stone dapat menyerap air tetapi dapat menyebabkan lumut dan kerusakan akibat siklus beku-cair di daerah dingin, pada daerah hujan, permukaan harus memiliki kemiringan drainase minimal 2-3%
- Suhu Ekstrem dan radiasi UV, aspal dapat melunak dan bleeding disuhu sekitar >50oC, material seperti rubber curb dapat mengalami degradasi UV tanpa stabilizer yang memadai
- Paparan Garam, bagi area kawasan pesisir, pilih material penyerapan air rendah sekitar <0.5% seperti granit, basal, atau beton dengan aditif waterproofing integral, hindari besi cor biasa, dan gunakan stainless steel grade 316
Analisis Kimia Lingkungan
Analisis kimia lingkungan dimaksudkan untuk menganalisis paparan polutan industri atau pembersih trotoar kimiawi yang dapat merusak beberapa material
Analisis Keberlanjutan dan Siklus Hidup
Sama seperti analisis sebelumnya, analisis keberlanjutan dan siklus hidup juga termasuk dalam bagian prosedur analisis dan pengambilan keputusan pasang poles area pedestrian yang terdiri dari.
Life Cycle Assessment Kuantitatif
- Embodied Carbon, jejak karbon dari ekstraks, produksi, hingga pengiriman material
- Urban Heat Island Effect, material dengan solar reflectance index yang tinggi >29 seperti paving beton berwarna terang atau grasscrete dapat meredam efek pulau panas
- permeabilitas, material porous seperti paving blok bersambung terbuka, atau porous asphalt memungkinkan resapan air, mengurangi beban drainase dan mengisi kembali air tanah
Sirkularitas Material
Sirkularitas material dimaksudkan untuk memprioritaskan material daur ulang, plastik daur ulang untuk bollard atau gunakan material yang mudah didaur ulang diakhir masa pakai seperti aluminium dan baja
Analisis Biaya Siklus Hidup
Prosedur analisis dan pengambilan keputusan pasang poles area pedestrian juga terdapat analisis biaya siklus hidup, yang mana analisis ini mencakup Pemodelan Total Cost of Ownership (TCO) 30 Tahun dengan rumus sebagai berikut
TCO = C + M(1+r)^-t-S(1+r)^-t
C = Biaya awal (capital cost) seperti pembelian, transportasi dan instalasi
M = Biaya pemeliharaan (maintenance cost) seperti pembersigan, perbaikan hingga penggantian
R = Biaya penggantian (replacement cost)
S = Nilai sisa (salvage value) nilai daur ulang material
r = Tingkat diskonto, t = tahun ke-t
dengan contoh perbandingan sebagai berikut
| Material Trotoar | Biaya Awal (/m2) | Frekuensi Perawatan | Perkiraan Umur | TCO 30 Tahun* |
| Paving Beton K-350 | Rp. 150.000 | Rendah (5 Tahun) | 15-20 Tahun | Rp. 420.000 |
| Paving Granit 3 cm | Rp. 600.000 | Sangat Rendah | 30+ Tahun | Rp. 650.000 |
| Aspal (Hotmix) | Rp. 100.000 | Tinggi (2 Tahun) | 5-8 Tahun | Rp. 850.000 |
Analisis Perawatan dan Ketahanan
Meski perawatan tampak sederhana, dalam prosedur analisis dan pengambilan keputusan pasang poles area pedestrian. Analisis perawatan dan ketahanan termasuk salah satu hal yang penting, karena melibatkan.
- Strategi Berbasis Risiko dimaksudkan untuk menganalisis perawatan berdasarkan klasifikasi material berdasarkan intensitas perawatan
- Material Low-Touch, umumnya berupa granit, batu alam keras, hingga beton berkualitas tinggi dengan curing sempurna yang hanya membutuhkan pembersihan berkala
- Material High-Touch, umumnya menggunakan paving tanah liat (clay pavers) yang rentan terhadap pertumbuhan gulma disambungan, kayu (memerlukan pelapis ulang rutin), hingga aspal (perlu seal coating)
- Ketersiadaan dan Biaya Pengganti
Analisis Keselamatan dan Aksesibilitas
Prosedur analisis dan pengambilan keputusan pasang poles area pedestrian juga terdapat analisis keselamatan dan aksesibilitas, analisis ini terbagi beberapa panduan teknis aksesibilitas diantaranya,
- Permukaan Jalan, harus rata, stabil dan anti slip. Bahkan jika diperlukan tactile paving harus memiliki kontras warna dan tekstur yang jelas, umumnya memiliki standar bulat untuk peringatan, garis lurus untuk penuntun.
- Sambungan Material, pastikan sambungan antar paving tidak boleh lebih lebar dari 10mm dan tidak memiliki ketinggian berbeda lebih dari 5mm untuk mencegah tersandung
- Warna dan Kontras Visual, material juga harus memberikan kontras warna yang cukup (minimal 30% perbedaan LRV-Light Reflectance Value) antara jalur pejalan kaki, zona peringatan, dan tepinya untuk pengguna tunanetra dan low vision
Analisis Estetikan dan Psikologi Persepsi
- Psikologi Warna dan Tekstur, warna hangat seperti cokelat dan merah muda merupakan warna earth tone dapat menciptakan kesan ramah dan alami, sementara warna dingin seperti abu-abu dan biru muda dapat memberikan kesan modern dan bersih. Disamping itu, tekstur yang kasar memberikan kesan rustic dan dapat meningkatkan grip, sedangkan tekstur halus justru akan memberikan kesan elegan dan mudah dibersihkan.
- Skala dan Pola, ukuran unit material perlu disesuaikan dengan skala ruang, serta pola-pola dapat digunakan untuk memperlambat persepsi kecepatan atau menandai transisi zona
Prosedur Analisis dan Pengambilan Keputusan
Selain memahami penjelasan tentang analisis 7 dimensi, bagaimana prosedur analisis dan pengambilan keputusan pasang poles area pedestrian menjadi salah satu pembahasan yang tidak boleh dilewatkan. Hal ini cukup nyambung dengan pembahasan sebelumnya, karena sebelum memulai menganalisis dan pengambilan keputusan juga diperlukan beberapa prosedur diantaranya.
- Indentifikasi konteks, dalam fase ini harus mengumpulkan data iklim, tanah, budaya, dan rencana induk kawasan
- Spesifikasi Kinerja, jangan lupa untuk menentukan parameter teknis minimum (untuk kuat tekan, slip resistance, dan lainnya) berdasarkan fungsi setiap zona
- Penyaringan Material, fase ini melakukan pemilihan 2-3 kandidat material terbaik untuk setiap komponen berdasarkan dua fase sebelumnya
- Analisis kuantitatif, pastikan untuk melakukan perhitungan LCA dan TCO untuk setiap kandidat material
- Evaluasi Holistik dan Mock Up, lakukan juga penilaian akhir dengan menimbang semua dimensi, dan jangan lupakan untuk membuat prototype atau mock up lapangan seluas minimal 10m2 untuk mengetes material di kondisi nyata sebelum keputusan final
Bagaimana prosedur dan pengambilan keputusan pasang poles area pesestrian, memang hanya beberapa fase saja. Kendati demikian, fase-fase tersebut juga memiliki beberapa langkah panjang dalam proses analisisnya. Walau begitu, perlu dilakukan dengan kehati-hatian karena pasang poles area pedestrian juga memungkinkan terjadi masalah, Bolong-Bolong, Pelajari 6 Masalah yang Terjadi Pada Saat Pasang Poles Area Pedestrian


